Minggu, 01 Juni 2014

Lanjutan Sayap-Sayap Patah

Diposting oleh Unknown di 07.25


Sebulan kemudian hujan di bulan september,air mata tak jua henti dan berkerak dihati,aku mencoba menghitung derasnya hujan,namun hujan tak bisa dijabarkan dengan angka dan kata,aku mengamit rindu bersama kepergianku sebulan silam  agar kenangan bisa dilupakan.
     Fahri mendekap ku dalam dekapan tangan yang kokoh dan sekedar bersandar didada bidangnya,terasa begitu aman,aku bahagia sulit rasanya untuk menafikkan yang indah,entah siapa yang memulai hingga kami memutuskan untuk bekomitmen,kini tak ada jarak antara aku  dan dia,aku bisa dengan leluasa menciumi rambutnya yang ikal  dan mencium bibirnya yang merah merekah.
     Aku gemetar,aku meyeka keringat yang meleleh dikening ku dan aku yakin aku akan jatuh di pelukannya untuk kesekian kali,tangan kami saling beradu merasakan kehangatan yang membara,      
ɚɚɚ

“ untukku?”  dramtis memang,aku sambut setangkai mawar dari tangan kekasihku itu dan menghirupnya dalam-dalam.
Perempuan mana yang tidak menikmati  setiap moment yang membuat kasmaran.
Aku menghela nafas dalam-dalam,ku pandang mata  Fahri yang tak berkedip ,tak ada suara yang tercipta dalam ruangan itu dan desah nafas yang biasanya beradu kuat dengan nafasku.Tapi kali ini tangannya gemetar merasa ketakutan yang luar biasa.
“ Luna,Aku lapar” sambil memegangi perutnya.
“ aku sudah sediakan kopi hangat,dan nasi padang untukmu ”
Fahri nyaris tidak berkomentar dan menikmati apa yang disediakan didalam tudung saji,nyaris dia kekenyangan.tangannya mengelus perutnya sambil tertawa meledekku.tapi aku bahagia karena Fahri menyukai masakkanku,setidaknya untuk besok aku akan membuat masakan yang lebih istimewa untuknya.
“kau bisa kan membuatku tidak gemuk?”
“ tentu,kau hanya perlu sedikit olahraga”
“ lalu?”
“ bagaimana kalau kau gunakan sepeda itu untuk berkeliling  di pagi hari”
“ oke,asalkan kau mau bersamaku”
     Tanpa harus Fahri yang memulai menyentuh setiap inchi tanganku,aku memulainya lebih dulu ,aku tak mau sugguhan itu menjadi suguhan yang sia-sia,aku tak mau kehilangannya ku pegang dia,ku peluk dan kucengkram erat-erat dan berharaap bahwa aku adalah pemiliknya satu-satunya,aku tak ikhlas dia pergi  begitu juga dengannya..
ɚɚɚ
     Pagi harinya jam 06.00 dia mengajakku untuk bersepeda sekedar berolahraga ,padahal aku sedikit malas ,aku menguap keras-keras agar dia tidak mengajakku. Fahri mengayuh sepeda menaiki tanjakan dan aku memboncengnya,jalannya begitu licin dan aku ketakutan dia menarik tanganku dan diletakkan melingkar di pinggangnya.hampir saja terjatuh tapi dia bisa mengendalikannya dengan sigap.  Kami berhenti sejenak.mengusir kelelahan  sebelum kami memutuskan untuk kembali.
ɚɚɚ
     Alunan detum diskotik,keramaian yang menghipnotis dan pasang mata laki-laki perempuan yang asyik  di pojok-pojok diskotik,aroma alkohol yang hampir menyerbu hidung,sepasang laki-laki dan perempuan yang asyik bergoyang tanpa aturan,Para pemuda sakaw dan hampir sekarat.
     Aliran darahku membeku,aku berdiri sempoyongan,air mata merembes dari pelupuk mataku,antara menerima atau menolak,menngharamkan dan tetap haram aku memutuskan keluar dari tempat itu Fahri tetap membuntutiku,dan mencoba meraih pundakku ,aku menangkisnya.dia semakin menjadi dia menarik tanganku dan hendak memelukku ,aku tolak,.mengapa aku canggung bila harus beradu dengannya,padahal ini hari terakhir aku melepas rindu dengannya sebelum dia kembali pada pemiliknya yang sah.
“ kita cukupkan semuanya disini saja rel,Aku sudah terlampau lelah hukum tetap hukum tidak untuk kita ingkari”
“ Tapi Luna....”
“ Maaf aku nggak bisa lagi dengan semua ini,aku sudah cukup lelah untuk bersandiwara dan terus menjadi orang lain.
ɚɚɚ
     Dalam deras hujan sore ini ada air mata yang ikut berjatuhan apakah alam juga ikut merasakan apa yang kurasa,aku masih meraih bayangmu,bayang yang jelas-jelas sudah untuk ku lupakan  mengapa dalam setiap inchi otakku selalu ada kamu yang menyertaiku,mengapa wajahmu tak bisa ikut tengelam bersama matahari yang sudah murung digantikan bintang.semua terasa sesak bukan karena tempat ini yang sesak,sesak karena tidak ada ruang untuk ku bernafas.
     Fahri..mengapa nama itu yang muncul lagi,memaksa aku untuk kembali menunggu pengharapan yang mungkin akan menyiksa,membawa rindu yang turut serta hadir diantaranya.
     keesokan harinya  saat embun bergelayut di pucuk-pucuk dedaunan saat itulah saat yang terindah,untuk memulai suatu harapan yang baru,menuliskan setiap gagasan yang hendak meluap dari otak,menulis dan menulis lagi dan semoga Tuhan mengizinkan untuk menjadi best seller,tapi berbeda di masa kecilku yang ingin menjadi seorang guru.  Tiba-tiba insipirasi  hilang sesaat hilang bersamaan dengan  dering ponsel yang tak sengaja aaku tekan.
     “ Oh inspirasi....datanglah”
Senyap,begitulah kiranya yang dapat aku gambarkan dari dalam kamar kos berukuran 4 x 3 meter,lantai dua yang kelihatan lebih menegangkan di malam hari.Aku membiarkan tirai kamar terbuka lebar-lebar,jam dinding yang  berdetak-detak menujukan pukul 07.00 pagi.
“ cahaya pagi,memuntahkan warna jingga nya menyelusup dari balik setiap rumah yang ada”
     “ aduhhh kenapa ini,kata-kata yang aku pakai menjijikan sekali”
     Setelah beberapa menit ,aku tetap tidak menemukan insipirasi aku memutuskan untuk mematikan layar monitorku,dan keluar dari kamar yang tak cukup luas itu.
Aku menguap keras-keras dan menggaruk-garuk kepalaku menunju kamar mandi.
     “ Nggak kuliah tho Lun?”
     “ nggak bang,libur”
Kataku dengan salah satu anak laki-laki ibu kos yang tak lain adalah sepupuku,Dino namanya.
“ah akhirnya keluar juga” kata Lala salah satu penghuni kos yang centil
“ udah sampai mana Lun,ngimpinya  didalam tidur kan?” sahut Dino dengan rambut kribo dan sebatang rokok yang mengantung di mulutnya.
     Tanpa punya keinginan untuk memulai percakapan,aku masuk ke kamarku,dan berniat untuk melanjutkan  novel yang belum tuntas.
 






BAGIAN II
     Aku  kembali menghidupkan komputerku dan menunggu tele confrence webcam dari Jogjakarta.bersiap untuk menyapa keluargaku disana dan gadis kecil yang masih berusia lima tahun yang merupakan anak pertama dari kakak ku yang akan menganggu di sela-sela Ibunya menelfon.
     “ Hallo..bulik...bulik da dah bulik” kata gadis itu dengan suara yang cempreng.
Dengan potongan gambar gadis lucu itu tampak dilayar.Aku tersenyum  lebar lalu melambaikan tangan pada keponakanku,buru-buru kak Rosa mengambil alih kameranya tetapi gadis itu masih berisik meminta kameranya diambil alih kekuasaannya,akhirnya kak Rosa menyerah.
     “ geser kesini sayang,kameranya”
Kata kak Rosa dengan nada keibuannya.
     “ bulik,Apa kabar,bulik kapan pulang”
Aku tersenyum lebar pada dua keponakannku
     “dadah sama bulik,dadah..” kata kak Rosa sambil melambai-lambaikan tangan anaknya.
     Mana mungkin anak  berusia enam bulan tahu akan hal itu .tapi Ibunya masih tetap memegang tangan  anak nya itu,anak yang pertama mirip sekali dengan ibunya lebih atractive sedangkan anak kedua lebih pendiam dan lebih mirip dengan ayahnya.
“ bulik..bulik tahu nggak si putih kemarin melahirkan,tapi sayang anaknya nggak putih kayak ibunya,anaknya jelek,gara-gara ulah tetangga kucing sebelah,bulik si bilang dibiarin aja,jadinya kayaak gitu”
Kemudian ibunya mengambil alih operator kamerannya,sebenarnya anggun keponakkanku ingin sekali menunjukkan kucing yang yang katanya melahirkan anak kembar itu,kemudian suasana senyap,dan hanya terlihat warna hitam kejinggaan dari balik jendela.Aku tak begitu memperdulikan apa yang ada dibalik jendela itu,gadis itu perlahan menguap sambil menyerahkan webcam ketangan ibunya.
***

     Malam terang,bintang mengukir angkasa.masihkan jua bias wajahmu menari di sepanjang malam menjelang tidurku,ingin ku rengkuh kudekap dan ku gapai meski sedikit memaksa gerak langkahku,tapi bias itu perlahan menghilang hingga sulit ku rengkuh kembali.benar jiwaku telah terpasung dalam sukmamu,benar dan pembenaran memang harus dibenarkan.Rasakan derasnya jantungku menghujani setiap desah nafas yang kau rangkai di sepanjang malam,kau sebut aju selalu berimajinasi dan tak waras tapi memang kau lah penyebab hilangnya warasku.mungkin kah kau mau menua bersamaku dan menatap wajahku dari balik sang fajar yang mulai menyingsing hingga mentari yang mulai temaram,atau bahkan sampai Tuhan menyuruhku untuk kembali pada apa yang digariskan dan disebut sebuah kematian,jika kau mau anggaplah dirimu tak waras karena mencinta orang yang tak waras pula.Selamat tinggal kisah yang tak waras semoga mentari esok masih akan menjemputmu dengan sebuah kegembiraan baru .

0 komentar:

Posting Komentar

 

cerpen dan puisi Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review