Sebulan kemudian hujan di bulan september,air mata tak jua henti dan berkerak dihati,aku mencoba menghitung derasnya hujan,namun hujan tak bisa dijabarkan dengan angka dan kata,aku mengamit rindu bersama kepergianku sebulan silam agar kenangan bisa dilupakan.
Fahri mendekap ku dalam dekapan tangan yang
kokoh dan sekedar bersandar didada bidangnya,terasa begitu aman,aku bahagia
sulit rasanya untuk menafikkan yang indah,entah siapa yang memulai hingga kami
memutuskan untuk bekomitmen,kini tak ada jarak antara aku dan dia,aku bisa dengan leluasa menciumi
rambutnya yang ikal dan mencium bibirnya
yang merah merekah.
Aku gemetar,aku meyeka keringat yang
meleleh dikening ku dan aku yakin aku akan jatuh di pelukannya untuk kesekian
kali,tangan kami saling beradu merasakan kehangatan yang membara,
ɚɚɚ
“
untukku?” dramtis memang,aku sambut
setangkai mawar dari tangan kekasihku itu dan menghirupnya dalam-dalam.
Perempuan
mana yang tidak menikmati setiap moment
yang membuat kasmaran.
Aku
menghela nafas dalam-dalam,ku pandang mata
Fahri yang tak berkedip ,tak ada suara yang tercipta dalam ruangan itu
dan desah nafas yang biasanya beradu kuat dengan nafasku.Tapi kali ini
tangannya gemetar merasa ketakutan yang luar biasa.
“
Luna,Aku lapar” sambil memegangi perutnya.
“
aku sudah sediakan kopi hangat,dan nasi padang untukmu ”
Fahri
nyaris tidak berkomentar dan menikmati apa yang disediakan didalam tudung
saji,nyaris dia kekenyangan.tangannya mengelus perutnya sambil tertawa
meledekku.tapi aku bahagia karena Fahri menyukai masakkanku,setidaknya untuk
besok aku akan membuat masakan yang lebih istimewa untuknya.
“kau
bisa kan membuatku tidak gemuk?”
“
tentu,kau hanya perlu sedikit olahraga”
“
lalu?”
“
bagaimana kalau kau gunakan sepeda itu untuk berkeliling di pagi hari”
“
oke,asalkan kau mau bersamaku”
Tanpa harus Fahri yang memulai menyentuh
setiap inchi tanganku,aku memulainya lebih dulu ,aku tak mau sugguhan itu
menjadi suguhan yang sia-sia,aku tak mau kehilangannya ku pegang dia,ku peluk
dan kucengkram erat-erat dan berharaap bahwa aku adalah pemiliknya
satu-satunya,aku tak ikhlas dia pergi
begitu juga dengannya..
ɚɚɚ
Pagi harinya jam 06.00 dia mengajakku untuk
bersepeda sekedar berolahraga ,padahal aku sedikit malas ,aku menguap
keras-keras agar dia tidak mengajakku. Fahri mengayuh sepeda menaiki tanjakan
dan aku memboncengnya,jalannya begitu licin dan aku ketakutan dia menarik
tanganku dan diletakkan melingkar di pinggangnya.hampir saja terjatuh tapi dia
bisa mengendalikannya dengan sigap. Kami
berhenti sejenak.mengusir kelelahan
sebelum kami memutuskan untuk kembali.
ɚɚɚ
Alunan detum diskotik,keramaian yang
menghipnotis dan pasang mata laki-laki perempuan yang asyik di pojok-pojok diskotik,aroma alkohol yang
hampir menyerbu hidung,sepasang laki-laki dan perempuan yang asyik bergoyang tanpa
aturan,Para pemuda sakaw dan hampir sekarat.
Aliran darahku membeku,aku berdiri
sempoyongan,air mata merembes dari pelupuk mataku,antara menerima atau
menolak,menngharamkan dan tetap haram aku memutuskan keluar dari tempat itu Fahri
tetap membuntutiku,dan mencoba meraih pundakku ,aku menangkisnya.dia semakin
menjadi dia menarik tanganku dan hendak memelukku ,aku tolak,.mengapa aku
canggung bila harus beradu dengannya,padahal ini hari terakhir aku melepas
rindu dengannya sebelum dia kembali pada pemiliknya yang sah.
“
kita cukupkan semuanya disini saja rel,Aku sudah terlampau lelah hukum tetap
hukum tidak untuk kita ingkari”
“
Tapi Luna....”
“
Maaf aku nggak bisa lagi dengan semua ini,aku sudah cukup lelah untuk
bersandiwara dan terus menjadi orang lain.
ɚɚɚ
Dalam deras hujan sore ini ada air mata
yang ikut berjatuhan apakah alam juga ikut merasakan apa yang kurasa,aku masih
meraih bayangmu,bayang yang jelas-jelas sudah untuk ku lupakan mengapa dalam setiap inchi otakku selalu ada
kamu yang menyertaiku,mengapa wajahmu tak bisa ikut tengelam bersama matahari
yang sudah murung digantikan bintang.semua terasa sesak bukan karena tempat ini
yang sesak,sesak karena tidak ada ruang untuk ku bernafas.
Fahri..mengapa nama itu yang muncul
lagi,memaksa aku untuk kembali menunggu pengharapan yang mungkin akan menyiksa,membawa
rindu yang turut serta hadir diantaranya.
keesokan harinya saat embun bergelayut di pucuk-pucuk dedaunan
saat itulah saat yang terindah,untuk memulai suatu harapan yang baru,menuliskan
setiap gagasan yang hendak meluap dari otak,menulis dan menulis lagi dan semoga
Tuhan mengizinkan untuk menjadi best seller,tapi berbeda di masa kecilku yang
ingin menjadi seorang guru. Tiba-tiba
insipirasi hilang sesaat hilang
bersamaan dengan dering ponsel yang tak
sengaja aaku tekan.
“ Oh inspirasi....datanglah”
Senyap,begitulah
kiranya yang dapat aku gambarkan dari dalam kamar kos berukuran 4 x 3
meter,lantai dua yang kelihatan lebih menegangkan di malam hari.Aku membiarkan
tirai kamar terbuka lebar-lebar,jam dinding yang berdetak-detak menujukan pukul 07.00 pagi.
“ cahaya pagi,memuntahkan warna
jingga nya menyelusup dari balik setiap rumah yang ada”
“ aduhhh kenapa ini,kata-kata yang aku
pakai menjijikan sekali”
Setelah beberapa menit ,aku tetap tidak
menemukan insipirasi aku memutuskan untuk mematikan layar monitorku,dan keluar
dari kamar yang tak cukup luas itu.
Aku
menguap keras-keras dan menggaruk-garuk kepalaku menunju kamar mandi.
“ Nggak kuliah tho Lun?”
“ nggak bang,libur”
Kataku
dengan salah satu anak laki-laki ibu kos yang tak lain adalah sepupuku,Dino
namanya.
“ah
akhirnya keluar juga” kata Lala salah satu penghuni kos yang centil
“
udah sampai mana Lun,ngimpinya didalam
tidur kan?” sahut Dino dengan rambut kribo dan sebatang rokok yang mengantung
di mulutnya.
Tanpa punya keinginan untuk memulai
percakapan,aku masuk ke kamarku,dan berniat untuk melanjutkan novel yang belum tuntas.
BAGIAN II
Aku
kembali menghidupkan komputerku dan menunggu tele confrence webcam dari
Jogjakarta.bersiap untuk menyapa keluargaku disana dan gadis kecil yang masih
berusia lima tahun yang merupakan anak pertama dari kakak ku yang akan
menganggu di sela-sela Ibunya menelfon.
“ Hallo..bulik...bulik da dah bulik” kata
gadis itu dengan suara yang cempreng.
Dengan
potongan gambar gadis lucu itu tampak dilayar.Aku tersenyum lebar lalu melambaikan tangan pada keponakanku,buru-buru
kak Rosa mengambil alih kameranya tetapi gadis itu masih berisik meminta kameranya
diambil alih kekuasaannya,akhirnya kak Rosa menyerah.
“ geser kesini sayang,kameranya”
Kata
kak Rosa dengan nada keibuannya.
“ bulik,Apa kabar,bulik kapan pulang”
Aku
tersenyum lebar pada dua keponakannku
“dadah sama bulik,dadah..” kata kak Rosa sambil
melambai-lambaikan tangan anaknya.
Mana mungkin anak berusia enam bulan tahu akan hal itu .tapi
Ibunya masih tetap memegang tangan anak
nya itu,anak yang pertama mirip sekali dengan ibunya lebih atractive sedangkan
anak kedua lebih pendiam dan lebih mirip dengan ayahnya.
“
bulik..bulik tahu nggak si putih kemarin melahirkan,tapi sayang anaknya nggak
putih kayak ibunya,anaknya jelek,gara-gara ulah tetangga kucing sebelah,bulik
si bilang dibiarin aja,jadinya kayaak gitu”
Kemudian
ibunya mengambil alih operator kamerannya,sebenarnya anggun keponakkanku ingin
sekali menunjukkan kucing yang yang katanya melahirkan anak kembar itu,kemudian
suasana senyap,dan hanya terlihat warna hitam kejinggaan dari balik jendela.Aku
tak begitu memperdulikan apa yang ada dibalik jendela itu,gadis itu perlahan
menguap sambil menyerahkan webcam ketangan ibunya.
***
Malam terang,bintang mengukir angkasa.masihkan
jua bias wajahmu menari di sepanjang malam menjelang tidurku,ingin ku rengkuh
kudekap dan ku gapai meski sedikit memaksa gerak langkahku,tapi bias itu
perlahan menghilang hingga sulit ku rengkuh kembali.benar jiwaku telah
terpasung dalam sukmamu,benar dan pembenaran memang harus dibenarkan.Rasakan
derasnya jantungku menghujani setiap desah nafas yang kau rangkai di sepanjang
malam,kau sebut aju selalu berimajinasi dan tak waras tapi memang kau lah
penyebab hilangnya warasku.mungkin kah kau mau menua bersamaku dan menatap
wajahku dari balik sang fajar yang mulai menyingsing hingga mentari yang mulai
temaram,atau bahkan sampai Tuhan menyuruhku untuk kembali pada apa yang
digariskan dan disebut sebuah kematian,jika kau mau anggaplah dirimu tak waras
karena mencinta orang yang tak waras pula.Selamat tinggal kisah yang tak waras
semoga mentari esok masih akan menjemputmu dengan sebuah kegembiraan baru .

0 komentar:
Posting Komentar